Hey, sahabat...
PROLOG
Saya tidak pernah bermaksud apa-apa ketika menuliskan hal ini. Aku, seperti biasa menuliskan apa yang kurasakan dan kupikirkan. Jadi kawan-kawan yang merasa tersinggung aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud menyindir kalian. Sungguh.
Yah, aku juga bingung mau menulis apa lagi di prolog singkat dan tidak jelas ujung-pangkalnya ini. Hahaha, untuk sahabatku, kalian lebih dari sekedar sahabat untukku. Keluarga kecil yang... Tinggal sementara di dunia tetapi tinggal selamanya didalam hati ini :) Love you all!
Hei, teman! Apa kabarmu? Sudah lama ya kita tidak berbicara satu dengan yang lainnya? Dan mungkin saja kau atau beberapa lainnya sudah muak, sangat muak melihatku disini. Bahkan surat ini. Entah ini dapat disebut surat atau malah curcol biasa. Hahaha. Hei, teman! Apakah kau sadar? Kau yang sekarang dengan sikap aroganmu itu? Dengan mata yang sangat arogan itu menatapku? Hei, aku ingin tahu apa kesalahanku hingga nyaris tidak ada orang yang mau berbicara lagi padaku. Dulu, mereka pasti marah jika aku tidak membalas pesan mereka. Ya, kejadian itu sudah lama sekali. Dan sekarang itu terjadi padaku kawan! Aku tidak marah kok. Aku pernah melakukan hal yang sama padamu bukan? Tidak ada alasan yang logis untuk membuatku marah lho! Lihat! Sekarang saja aku tertawa! Jangan cemas aku tidak apa-apa kok!
Ironis, eksistensi sesaatku hanyalah seperti angin. Tidak. Semua manusia eksistensinya seperti angin. Sesaat untuk dinikmati dan hilang. Datang dan pergi dalam kehidupan. Ha-h, kesepian. Perasaan yang tak asing lagi 'kan? Yah, aku senang kok melihat kalian bersenang-senang. Tidak ada satu orang itu tidak berarti banyak kok! Sayang, hei sahabat! Kau mungkin dengan mulut ularmu dapat memutar balik fakta yang ada. Sekalipun begitu, kau masih tetap teman(baca:Sahabat) yang baik untukku. Sekalipun sakit. Hubungan manusia itu hanyalah sebatas benang yang tampak terlihat seperti rantai. Terlihat kokoh tetapi mudah hancur dan putus. Hanya karena kesalahan kecil, atau mungkin... Tidak mengetahui kesalahan masing-masing. Kita bukan anak kecil lagi, seharusnya kau juga bisa mengendalikan emosi dan mengubah bagaimana cara berfikir. Dan seharusnya kita bisa belajar dari anak kecil. Kenapa? Mereka bertengkar, dan dengan naif dan polosnya meminta maaf satu sama lain dengan hati yang tulus. Apa kita tidak bisa? Jujur saja, aku tidak mengerti salahku padamu itu apa. Semakin dewasa permasalahan semakin merepotkan. Dulu aku ini sebagai figur yang berguna untukmu. Aku bisa menjadi temanmu, ibumu, kakakmu, saudaramu. Sekarang, apakah masih bisa sama?
Hei, teman! Apa kau berfikir kenangan yang kita buat sia-sia? Dan mungkin segalanya ini harus diakhiri. Joker. Mungkin aku seperti itu. Hidup berpindah-pindah tempat, diterima sesaat dan dibuang. Seperti angin. Angin berhembus ketika orang membutuhkan, dan hilang saat orang itu merasa baikkan. Hmm, mungkin aku seperti itu, mungkin. Baiklah kusudahi saja semua surat ini mungkin kau juga muak mendengar segalanya dari sini. Hahaha, aku tidak bisa dan pandai dalam mengekspresikan diriku. yang kubisa melewati kata-kata sarkastis nan hiperbola ini. Setelah membaca ini aku juga tidak berharap kau masih mau menerimaku atau tidak. Jika benar-benar membenciku tinggalkan saja. Ha-h mulai lagi. Baiklah, terimakasih atas segalanya ya! Aku walau bagaimanapun tidak akan menyesal bertemu denganmu...!!
Hei, sahabat!! Kapan kita bisa bermimpi bersama lagi?
Kapan kita bisa berbagi cerita hingga larut lagi?
Kapan segalanya tidak perlu ditutup-tutupi begini?
Jika kau memintaku menunggu untuk semua itu, akan kulakukan.
Jika kau bilang kita tidak dapat bersama lagi, memori itu tetap ada.
Kita, sahabat, saudara.
Tertanda:
-salam, orang yang kaubenci: Malice baskerville a.k.a Natasha Johanna-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar